Cerita Seks - Kurasakan Ada Remasan dari dalam Memek NIngsih


Cerita Seks, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita dewasa, Cerita Seks Pembantu, Cerita seks abg, Cerita Seks Sedarah, Cerita seks Selingkuh, Cerita Seks Tante.

Aku berusia 35 tahun saat ini, sudah beristeri dan mempunyai 2 orang anak. Rumahku terletak di pinggiran kota Bandung yang bisa disebut sebagai desa. Orang tuaku tinggal di sebuah perumahan yang cukup elite tidak jauh dari rumahku. Orang tuaku memang bisa dibilang orang kaya, sehingga mereka bisa mempunyai pembantu. Nah pembantu orang tuaku inilah yang menjadi ‘Tokoh’ dalam ceritaku ini.

www.inginseks22.com

Bapakku baru 3 bulan yang lalu meninggal dunia, jadi sekarang ibuku tinggal sendiri hanya ditemani Ningsih , pembantunya yang sudah hampir 5 tahun bekerja disitu. Ningsih berumur 27 tahun dan belum bersuami. Wajahnya tidak cantik, tapi yang menarik dari Ningsih ini adalah bodynya, di mataku terlihat seksi sekali. Tinggi kira-kira 164 cm, dengan pinggul yang bulat dan payudara berukuran 36, dan kulit kecoklatan. Sering sekali aku memperhatikan kemolekan tubuh pembantu ibuku ini, sambil membandingkannya dengan tubuh isteriku yang sudah mulai melar.

Hari itu, sepulang dari tempat kerja kudapati rumah dalam keadaan sepi. Beberpa kali kupanggil nama istriku, tapi tak ada jawaban. Akupun mencoba ke rumah ibuku, yang hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari rumahku. Biasanya kalau tidak ada di rumah, isteriku sering main ke rumah ibuku, entah untuk sekedar ngobrol dengan ibuku atau membantu beliau kalau sedang sibuk apa saja. Sampai di rumah ibuku, ternyata disanapun kosong, cuma ada Ningsih , sedang memasak.

“En, Bu Lestari (nama isteriku) kesini nggak?” tanyaku pada ningsih
“Iya Pak, tapi Cuma sebentar terus pergi sama temannya” jawab Ningsih .
“Terus Ibu sepuh (Ibuku) kemana?” Tanyaku lagi.
“Lagi ke Pasar ma pak sopir Pak” jawabnya
“Eh... Masak apa Sih? tanyaku sambil masuk ke dapur, dan seperti biasa, mataku langsung melihat tonjolan pinggul dan pantatnya juga dadanya yang aduhai itu.
“Ini Pak, sayur lodeh” jawab Ningsih
Rupanya dia ngerasa juga kalau mata nakalku sedang memperhatikan pantat dan dadanya.
“Ich... Pak Tono ngeliatin apa sih” Tanya Ningsih .
Karena selama ini aku sering juga bercanda sama dia, akupun menjawab,
“Ngeliatin pantat kamu Ning. Kok bisa seksi begitu ya?”
“Iiih Bapak, kan Ibu Lestari juga pantatnya gede” jawabnya agak sewot
“Iya sih, tapi kan lain sama pantat kamu” jawabku gak mau kalah
“Lain gimana sih Pak?” tanya Ningsih , sambil matanya melirik kearahku.

Aku yakin, saat itu memang Ningsih sedang memancingku untuk kearah yang lebih hot lagi.
Akupun tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan menjawab lagi, “Iya, kalo Bu Lestari kan cuma menang gede, tapi tepos”
“Terus, kalo saya gimana Pak?” Tanyanya semakin genit.

Kurang ajar, pikirku. Gerakan pinggulnya langsung membuat kontolku berdiri.
Langsung aku berjalan kearahnya, berdiri di belakang Ningsih yang masih mengaduk sayur lodeh itu di kompor.
“Kalo kamu kan, pinggulnya gede, bulat dan kayaknya masih kencang”, jawabku sambil tanganku meraba pinggulnya.
“Idih Bapak, emangnya saya mobil bisa lari kencang” sahut Ningsih , tapi tidak menolak saat tanganku meraba pinggulnya.

Karena dia tidak marah saat pinggulnya aku rabai, akupun yakin bahwa Ningsih memang minta aku ‘Kerjai’. Akupun maju sehingga kontolku yang sudah berdiri dari tadi itu menempel di pantatnya. Adduuhh, rasanya enak sekali karena Ningsih memakai rok berwarna abu-abu yang terbuat dari bahan cukup tipis. Terasa sekali kontolku yang keras itu menempel di belahan pantat Ningsih yang, seperti kuduga, memang padat dan kencang.
“Eh Pak...Apa ini Pak, kok keras dan panjang? tanya Ningsih genit.
“Ini namanya batang kenikmatan Ning....” sahutku.

Saat itu, rupanya sayur lodeh yang dimasak sudah matang. Ningsih pun mematikan kompor, dan tak kusangka dia malah bersandar ke dadaku, sehingga pantatnya terasa menekan kontolku . Aku tidak tahan lagi mendapat sambutan seperti ini, langsung tanganku ke depan, ku remas kedua buah susunya. Alamaak, tanganku bertemu dengan dua bukit yang kenyal dan terasa hangat dibalik kaos dan bh-nya.

Saat kuremas, Ningsih malah menggelinjang dan mendesah, “Aaahh, Pak....” sambil kepalanya ditolehkan kebelakang sehingga bibir kami dekat sekali. Kulihat matanya terpejam menikmati remasanku. Kulumat bibirnya, dia membalas lumatanku. Tak lama kemudian, kami saling berpagutan, lidah kami saling belit dalam gelora nafsu kami. Kontolku yang tegang kugesek-gesekkan ke pantatnya, menimbulkan sensasi nikmat luar biasa.

Sesaat kemudian, keturunkan tangan kiriku ke arah pahanya. Tanpa banyak kesulitan akupun menyentuh CDnya yang ternyata telah sedikit lembab di bagian memeknya. Kuelus-elus memeknya dengan lembut dari balik CDnya, dia mengeluh kenikmatan, “Ssshh, aahh, Pak Tono , paak.. jangan di dapur dong Pak”

Maka selanjutnya kuajak Ningsih ke kamarnya, di bagian belakang rumah ibuku. Sesampai di kamarnya, Ningsih langsung memelukku dengan penuh nafsu, “Pak, Ningsih sudah lama lho pengen ngerasain punya Bapak”. “Kok nggak bilang dari dulu Ning?” kataku sambil melepas kaos dan roknya. Dan.. akupun terpana melihat pemandangan menggairahkan di tubuh perempuan muda ini. Kulitnya memang tidak putih, tapi mulus sekali. Kedua susunya besar tapi proporsional dengan tubuhnya. Sementara pinggang kecil dan pinggul besar ditambah bongkahan pantatnya bulat dan padat sekali.

Rupanya Ningsih tidak mau membuang waktu, diapun segera membuka kancing bajuku satu persatu, melepaskan bajuku dan segera melepaskan celana panjangku. Sekarang kami berdua hanya mengenakan pakaian dalam saja. Kami berpelukan, dan kembali lidah kami berpagut dalam gairah yang lebih besar lagi. Kurasakan kehangatan kulit tubuh Ningsih meresap ke kulit tubuhku. Kemudian lidahku turun ke lehernya, kugigit kecil lehernya, dia menggelinjang sambil mengeluarkan desahan yang semakin menambah gelora birahiku, “Aahh.... enak sekali pakkkkk”.

Tanganku melepaskan BH yang dipakainya, dan terpampanglah kedua buah susunya yang indah itu. Langsung keserbu dan kuciumi, kedua bukit kenyal itu bergantian. Kemudian kujilati pentil Ningsih yang berwarna coklat, terasa padat dan kenyal, lalu kugigit-gigit kecil pentilnya dan lidahku membuat gerakan memutar disekitar pentilnya yang langsung menegang keras.

Kurebahkan Ningsih ditempat tidurnya, dan kuturunkan CDnya. Kembali aku terpesona melihat keindahan vagina Ningsih yang dimataku saat itu, sangat indah dan menggairahkan. Bulu rambutnya tidak terlalu banyak, tersusun rapi dan yang paling mencolok adalah kemontokan vagina Ningsih . Kedua belah bibir vaginanya sangat tebal, sehingga klitorisnya agak tertutup oleh daging bibir tersebut. Warnanya kemerahan.

Segera kutundukkan kepalaku dan bibirkupun menyentuh vagina Ningsih yang walaupun kakinya dibuka lebar, tapi tetap terlihat rapat, karena ketebalan bibir vaginanya itu. Pinggul Ningsih menggelinjang, menikmati sentuhan bibirku di kelentitnya. Kutarik kepalaku sedikit kebelakang agar bisa melihat vagina yang sangat indah ini.

“Ning.... , memek kamu bagus sekali, sayang”
“Pak Tono suka ya ma memek Ningsih ? tanya Ningsih .
“Memek kamu indah dan seksi, baunya juga harum” jawabku sambil kembali mencium dan menghirup aroma dari vagina Ningsih.
“Mulai sekarang, memek Ningsih cuma untuk Pak Tono... Pak Tono mau kan?” Kata Ningsih .
“Sangat mau Ning...” jawabku sambil menjilatkan lidahku ke vaginanya kembali.

Ningsih terlihat sangat menikmati jilatanku di klitorisnya. Apalagi saat kugigit klitorisnya dengan lembut, lalu lidahku ku masukkan ke liang kenikmatannya “Oooh, sshshh, aahh.. Pak Tono , enak sekali Pak. Terusin Pak Tono sayang”

5 menit, kulakukan aksi itu, sampai dia menekan kepalaku dengan kuat ke vaginanya, sehingga aku sulit bernafas” Pakkkkkk .. aahh, Ningsih nggak kuat Pak.. sshh” Kurasakan kedua paha Ningsih menjepit kepalaku bersamaan dengan itu, kurasakan vagina Ningsih menjadi semakin basah. Ningsih sudah mencapai klimaks yang pertama. Ningsih masih menghentak-hentakkan vaginanya kemulutku, sementara cairan hangat meleleh keluar dari lubang vaginanya. Kuhirup cairan kenikmatan Ningsih sampai kering. Dia terlihat puas sekali, matanya menatapku dengan penuh rasa kepuasan. Aku senang sekali melihat dia mencapai klimaks.

Tak lama kemudian dia bangkit sambil meraih kontolku yang masih berdiri tegak seperti menantang dunia. Dia memasukkan kontolku kedalam mulutnya, dan mulai menjilati kepala kontolku . “Ooouugh...., nikmatnya....”, ternyata Ningsih sangat lihai memainkan lidahnya, kurasakan sensasi yang sangat dahsyat saat lidahnya itu mengenai batang kontolku . Ningsih terus mengulum kontolku yang semakin lama semakin membengkak itu. Tangannya tidak tinggal diam, dikocoknya batang kontolku , sambil lidah dan mulutnya masih terus mengirimkan getaran-getaran yang menggairahkan di sekujur batang kontolku .

“Pak ... , Ningsih udah pengin banget nih.... masukin sekarang ya Pak?” pinta Ningsih.

Aku mengangguk, dan dia langsung berdiri mengangkangiku tepat di atas kontolku . Digenggamnya batang kontolku , lalu diturunkannya pantatnya. Di bibir vaginanya, dia menggosok-gosokkan kepala kontolku , yang otomatis menyentuh klitorisnya juga. Kemudian dia arahkan kontolku ke tengah lobang vaginanya. Dia turunkan pantatnya, dan.. slleepp.. setengah batang kontolku sudah tertanam di vaginanya. Ningsih memejamkan matanya, dan menikmati penetrasi kontolku .

Aku merasakan jepitan yang sangat erat otot-otot dalam vagina Ningsih. Aku harus berjuang keras untuk memasukkan seluruh kontolku ke dalam kehangatan dan kelembaban vagina Ningsih. Ketika kutekan agak keras, Ningsih sedikit meringis. Sambil membuka matanya, dia berkata, “Pelan dong Pakkkk..., sakitttt..., tapi enak sihhh....”. Diapun mulai menggoyangkan pinggulnya sedikit-sedikit, sampai akhirnya seluruh kontolku lenyap ditelan kehangatan vaginanya.

Kami terdiam sejenak, Ningsih menarik nafas lega setelah seluruh kontolku ‘ditelan’ vaginanya. Dia terlihat konsentrasi, dan tiba-tiba.. aku merasa kontolku seperti disedot oleh suatu tenaga yang tidak terlihat, tapi sangat terasa dan enaak sekali. Ruaar Biasaa! Vagina Ningsih mermas-remas dan menyedot-nyedot kontolku !

Belum sempat aku berkomentar tentang betapa enaknya vaginanya, Ningsih pun mulai membuat gerakan memutar pinggulnya. Mula-mula perlahan, semakin lama semakin cepat dan lincah gerakan Ningsih . Waw.. kurasakan nikmat yang luar biasa saat dia ‘mengulek’ kontolku di dalam vaginanya. Ningsih merebahkan badannya sambil tetap memutar pinggulnya. Buah susunya yang besar menekan dadaku, dan.. astaga.. sedotan vaginanya semakin kuat, membuat aku hampir tidak kuat bertahan.

Aku tidak mau klimaks dulu, aku ingin menikmati dulu vagina Ningsih yang ternyata dapat meremas dan menyedot ini lebih lama lagi. Maka, kudorong tubuh Ningsih ke atas, sambil kusuruh lepas dulu, dengan alasan aku mau ganti posisi. Padahal aku takut spermaku muncrat.

Lalu kusuruh Ningsih tidur terlentang, dan langsung kuarahkan kontolku ke vaginanya yang sudah siap menanti ‘pasangannya’. Walaupun masih agak sempit, tapi karena sudah banyak pelumasnya, lebih mudah kali ini kontolku menerobos lembah kenikmatan Ningsih . begitu seluruh batang kontolku tenggelam seluruhnya, segera kumainkan pantatku turun naik, sehingga kontolku keluar masuk di lorong sempit Ningsih yang sangat indah itu. Dan, sekali lagi akupun merasakan sedotan yang fantastis dari vagina Ningsih. Setelah 15 menit kami melakukan gerakan sinkron yang sangat nikmat ini, aku mulai merasakan kedutan-kedutan di kepala kontolku .

“Ningsih , aku udah nggak kuat nih, mau nyampai sayang”, kataku pada Ningsih .
“Iya Pak, Ningsih juga udah mau keluar lagi nih. Oohh, sshh, aahh.. barengan nyampainya ya Pak .., cepetin dong genjotannya Pak” pinta Ningsih sambil mulutnya mendesah.

Akupun mempercepat genjotanku pada lobang vagina Ningsih yang luar biasa itu, Ningsih mengimbanginya dengan ‘mengulek’ pantatnya dengan gerakan memutar yang sangat erotis, ditambah dengan sedotan alami didalam vaginanya. Akhirnya aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi, sambil mengerang panjang, tubuhku mengejang.

“Ningsihhhhhh..... , aahhhhhh, aku keluar sayaang” Muncratlah air maniku ke dalam vaginanya. Di saat bersamaan, Ningsih pun mengejang sambil memeluk erat tubuhku.
“Pakkkkkkk......, Ningsih juga keluar paakk, sshh, aahh”.

Aku terkulai lemas di atas tubuh Ningsih . Ningsih masih memeluk tubuhku dengan erat, sesekali pantatnya mengejang, masih merasakan kenikmatan yang tidak ada taranya itu. Nafas kami memburu, keringat tak terhitung lagi banyaknya.

“Ninggggg...... remasan memek kamu sungguh luar biasa enak sekali” Kataku.
“Kontol Pak Tono juga luar biasa... terasa nikmat sekali di dalam memekku” jawabnya sambil mencium bibirku. Kembali kami berpagutan.

SELESAI .....

tags #Cerita Seks, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita dewasa, Cerita Seks Pembantu, Cerita seks abg, Cerita Seks Sedarah, Cerita seks Selingkuh, Cerita Seks Tante.

Subscribe to receive free email updates: